180ᵒ
kenyataan yang tidak dapat lagi dibantah, itulah hal yang
sedang diratapi Hani sejak 2 jam tadi yang tak kunjung beranjak dari pojok
almari, memang mungkin Hani temasuk gadis yang beruntung saat pertama sampai
assrama, almari yang jauh dari pintu dan jemuran mungkin yang pantas disebut
first luck-nya, tapi tidak saat ini dan mungkin tahun-tahun berikutnya, Hani gadis cantik yang hidupnya berubah 360ᵒ
“sabar,Hani”
Cukup
3 tahun saja..pasti akan ada hikmah dibalik ini semua.” Andai saja mama memberi
kesempatan untuk memilih, mungkin aku tidak akan disini sekarang”
Kalimat
yang selalu terulang dalam benak Hani. Satu dari puluhan,mungkin ribuan sekolah
yang menyediakan asrama dan ajaran agama yang begitu kental, menjadi pilihan alternatif untuk menjauhkan Hani dari kenakalan remaja
yang semakin marak tak terkontrol, tapi tiga tahun itu terlalu lama, mengingat
cara pemikiran Hani yang sangat berbanding terbalik dari kedua orang tuanya.
Mama tidak
berharap banyak,hanya saja setelah lulus Hani harus berubah.
“Tata krama”
Hanya
itu yang harus dibawa pulang Hani, gadis kecil itu hanya bisa menarik nafas
panjang saat mamanya mulai
mengoceh lagi mengenai tugas perempuan yang sering disebut 3M
“Masak,macak,manak
“
Memang
terdengar sangat kasar dan tak adil.Hani gadis yang
tak suka dikekang dan menuntut kebebasan pun membantah pernyataan kasar
tersebut yang memang seharusnya tak perlu dilestarikan.
2
tahun terakhir sifat Hani mulai berubah,apalagi setelah mendengarkan motivasi
dari Oktastika bahwa cita-cita harus terwujud
dan tak boleh dibiarkan menguap diangan-angan dan pada akhirnya menghilang.
Gadis
yang notabene tomboy itu,mulai mengenal apa itu impian,keinginan bersekolah
diluar negeri pun tak dapat terbendung lagi, tak ingin impiannya hilang
bagaikan asap, gadis itupun mengambil tindakan yang seharusnya tak dilakukan.
“melanggar
peraturan”
Satu-satunya
jalan untuk mendapatkan informasi.Google,koran mulai di pelajari secara
diam-diam,mengingat sistem sekolah yang memperbolehkan membawa alat elektronik
ataupun sekedar membaca surat kabar.
Sampai suatu saat,
tanda warning datang padanya
“musuh gua tahu”
keluh Hani dalam hati.
Memang
terlihat tak ada respon,tapi keesokannya Hani dipanggil pengurus asrama dan
semua yang menjadi sumber informasi Hani disita.
Tak
sampai disitu, tanpa sepengetahuan Hani, ternyata orang tuanya dipanggil
pengurus asrama, entah apa saja yang diceritakan tentangnya, nyata ataupun ada
unsur penambahan, yang jelas kini Hani hanya bisa pasrah.
Kepasrahan
itu terjawab saat papa marah besar,yang sebelumnya tak pernah semenyeramkan
itu.
“beasiswa itu
tidak perlu dicari,kalau memang kamu pintar pasti akan datang sendiri”
Kemarahan
yang bercampur teriakan itu bagaikan pisau yang menyayat nyayat hatinya.kalau
saja papa tahu maksud yang sebenarnya dan tidak direkayasa mungkin papa akan
mengerti dan tak semarah sekarang ini
Cairan
bening-pun mulai mengalir di pipi dan Hani yang sempat menjelaskan hanya
tertunduk diam seribu bahasa,tak berani membantah.
“sudahlah,turuti
saja perkataan papamu itu”
Perkataan
halus tanpa mengandung unsur pembelaan dari mama,tak akan menenangkan hati Hani.Tapi entah apa yang membuatnya begitu
kuat, Hani berjanji dalam hati
“aku akan sukses,
tak ada yang bisa menghentikanku,siapapun itu”
Gadis yang tak ingin menjadi korban tradisi
itu,mulai mencari jalan lain dan mengumpulkan nyali.setiap akhir pekan
diam-diam Hani pergi dari asrama dan lari menuju warnet untuk mengumpulkan
informasi.
Hari
berganti minggu,minggu berganti bulan, kegiatan yang sudah dilakukan berbulan-bulan
itu belum mendapatkan titik terang, keputus asaan mulai merayapi hati yang
mungkin sudah membusuk oleh teriakan,makian,dan larangan itu.
Do’a-do’a
yang selalu dilantunkan tiap malam pun tak kunjung terkabul,apakah ini pertanda
bahwa Allah tak sayang padanya.Pojok almari menjadi satu-satunya solusi,jalan
keluar untuk merenungkan segalanya,teringatlah Hani akan hadist yang pernah diajarkan padanya.
“Allah memberi rezeki kepada hambaNya
sesuai dengan kegiatan dan kemauan kerasnya serta ambisinya. (HR. Aththusi)”
Senyum
kecil mulai terlihat,harapan yang terpancar dimata menunjukkan sinyal, tak ada
yang mustahil.
Allah
tak akan membenci hambanya yang bekerja keras. Gebrakan baru dalam hati Hani
untuk menapaki jejak kegigihan Rasulullah dan kecerdikan Abu nawas,kesuksesan
selalu menunggu dan harus dijemput agar menang dalam pergulatan dunia dan
kebahagiaan akhirat.