Senin, 10 April 2017

short story


             180

kenyataan yang tidak dapat lagi dibantah, itulah hal yang sedang diratapi Hani sejak 2 jam tadi yang tak kunjung beranjak dari pojok almari, memang mungkin Hani temasuk gadis yang beruntung saat pertama sampai assrama, almari yang jauh dari pintu dan jemuran mungkin yang pantas disebut first luck-nya, tapi tidak saat ini dan mungkin tahun-tahun berikutnya, Hani gadis cantik yang hidupnya berubah 360

“sabar,Hani”                      

Cukup 3 tahun saja..pasti akan ada hikmah dibalik ini semua.” Andai saja mama memberi kesempatan untuk memilih, mungkin aku tidak akan disini sekarang”
Kalimat yang selalu terulang dalam benak Hani. Satu dari puluhan,mungkin ribuan sekolah yang menyediakan asrama dan ajaran agama yang begitu kental, menjadi pilihan alternatif untuk menjauhkan Hani dari kenakalan remaja yang semakin marak tak terkontrol, tapi tiga tahun itu terlalu lama, mengingat cara pemikiran Hani yang sangat berbanding terbalik dari kedua orang tuanya.
Mama tidak berharap banyak,hanya saja setelah lulus Hani harus berubah.
“Tata krama”
Hanya itu yang harus dibawa pulang Hani, gadis kecil itu hanya bisa menarik nafas panjang saat mamanya mulai mengoceh lagi mengenai tugas perempuan yang sering disebut 3M
“Masak,macak,manak “
Memang terdengar sangat kasar dan tak adil.Hani gadis yang tak suka dikekang dan menuntut kebebasan pun membantah pernyataan kasar tersebut yang memang seharusnya tak perlu dilestarikan.
2 tahun terakhir sifat Hani mulai berubah,apalagi setelah mendengarkan motivasi dari Oktastika bahwa cita-cita harus terwujud dan tak boleh dibiarkan menguap diangan-angan dan pada akhirnya menghilang.
Gadis yang notabene tomboy itu,mulai mengenal apa itu impian,keinginan bersekolah diluar negeri pun tak dapat terbendung lagi, tak ingin impiannya hilang bagaikan asap, gadis itupun mengambil tindakan yang seharusnya tak dilakukan.
“melanggar peraturan”
Satu-satunya jalan untuk mendapatkan informasi.Google,koran mulai di pelajari secara diam-diam,mengingat sistem sekolah yang memperbolehkan membawa alat elektronik ataupun sekedar membaca surat kabar.
Sampai suatu saat, tanda warning datang padanya
“musuh gua tahu” keluh Hani dalam hati.
Memang terlihat tak ada respon,tapi keesokannya Hani dipanggil pengurus asrama dan semua yang menjadi sumber informasi Hani disita.
Tak sampai disitu, tanpa sepengetahuan Hani, ternyata orang tuanya dipanggil pengurus asrama, entah apa saja yang diceritakan tentangnya, nyata ataupun ada unsur penambahan, yang jelas kini Hani hanya bisa pasrah.
Kepasrahan itu terjawab saat papa marah besar,yang sebelumnya tak pernah semenyeramkan itu.
“beasiswa itu tidak perlu dicari,kalau memang kamu pintar pasti akan datang sendiri”
Kemarahan yang bercampur teriakan itu bagaikan pisau yang menyayat nyayat hatinya.kalau saja papa tahu maksud yang sebenarnya dan tidak direkayasa mungkin papa akan mengerti dan tak semarah sekarang ini
Cairan bening-pun mulai mengalir di pipi dan Hani yang sempat menjelaskan hanya tertunduk diam seribu bahasa,tak berani membantah.
“sudahlah,turuti saja perkataan papamu itu”
Perkataan halus tanpa mengandung unsur pembelaan dari mama,tak akan menenangkan hati  Hani.Tapi entah apa yang membuatnya begitu kuat, Hani berjanji dalam hati
“aku akan sukses, tak ada yang bisa menghentikanku,siapapun itu”
Gadis  yang tak ingin menjadi korban tradisi itu,mulai mencari jalan lain dan mengumpulkan nyali.setiap akhir pekan diam-diam Hani pergi dari asrama dan lari menuju warnet untuk mengumpulkan informasi.
Hari berganti minggu,minggu berganti bulan, kegiatan yang sudah dilakukan berbulan-bulan itu belum mendapatkan titik terang, keputus asaan mulai merayapi hati yang mungkin sudah membusuk oleh teriakan,makian,dan larangan itu.
Do’a-do’a yang selalu dilantunkan tiap malam pun tak kunjung terkabul,apakah ini pertanda bahwa Allah tak sayang padanya.Pojok almari menjadi satu-satunya solusi,jalan keluar untuk merenungkan segalanya,teringatlah Hani akan hadist yang pernah diajarkan padanya.
    “Allah memberi rezeki kepada hambaNya sesuai dengan kegiatan dan kemauan kerasnya serta ambisinya. (HR. Aththusi)                                                                                                                                
Senyum kecil mulai terlihat,harapan yang terpancar dimata menunjukkan sinyal, tak ada yang mustahil.
Allah tak akan membenci hambanya yang bekerja keras. Gebrakan baru dalam hati Hani untuk menapaki jejak kegigihan Rasulullah dan kecerdikan Abu nawas,kesuksesan selalu menunggu dan harus dijemput agar menang dalam pergulatan dunia dan kebahagiaan akhirat.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

short story

             18 0 ᵒ k enyataan yang tidak dapat lagi dibantah, itulah hal yang sedang diratapi Hani sejak 2 jam tadi yang...